Paguyuban Subak Densel Audiensi ke BRMP Bali, Dorong Peningkatan Pendapatan Petani
Denpasar, 15 Juni 2026 – Paguyuban Subak Denpasar Selatan (Densel) melakukan audiensi dengan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali guna memohon dukungan dan pendampingan dalam pengembangan sektor pertanian di wilayah Denpasar Selatan. Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Paguyuban Subak Densel bersama sejumlah anggota, didampingi Koordinator dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Denpasar Selatan. Rombongan diterima oleh Kepala BRMP Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., beserta jajaran staf, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi), serta Penyuluh CWS Provinsi Bali.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Paguyuban Subak Densel, I Made Pagiartha memaparkan sejumlah program yang akan dilaksanakan oleh paguyuban. Salah satunya adalah penyelenggaraan lomba produk pertanian yang mencakup lomba hasil ubinan padi dan lomba produk hortikultura. “Kami membutuhkan dukungan BRMP Bali dalam bentuk pendampingan yang bersifat edukatif, khususnya terkait upaya peningkatan produksi dan kualitas hasil pertanian petani,” ujar Pagiartha.
Selain itu, Pagiartha juga menyampaikan rencana pembangunan unit penggilingan padi di wilayah Denpasar Selatan. Menurutnya, keberadaan penggilingan padi akan meningkatkan nilai tambah hasil panen petani karena gabah dapat diolah secara mandiri sebelum dipasarkan.
“Jika gabah dijual dalam bentuk bahan mentah, nilai jualnya tentu lebih rendah. Karena itu, kami ingin memiliki penggilingan padi sendiri. Namun, kami masih menghadapi kendala dalam hal pembiayaan dan berharap mendapatkan arahan dari BRMP Bali terkait peluang bantuan permodalan,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BRMP Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., menegaskan bahwa BRMP Bali siap memberikan pendampingan teknis dan edukasi kepada petani guna meningkatkan produktivitas komoditas pertanian di Denpasar Selatan. Terkait usulan bantuan sarana dan prasarana pertanian, termasuk penggilingan padi, Rai Yasa menyarankan agar kelompok tani atau subak mengajukan proposal kepada Kementerian Pertanian sesuai dengan mekanisme dan persyaratan yang berlaku.
“Kami berharap sebelum mengajukan usulan bantuan, subak terlebih dahulu melakukan kajian dan perhitungan potensi yang dimiliki. Dengan demikian, apabila bantuan disetujui, pemanfaatannya dapat berjalan secara efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi petani,” jelasnya.
Sementara itu, Kelsi Penyuluh CWS Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., menilai potensi pertanian di Denpasar umumnya sangat besar. Hal tersebut terbukti salah satunya dengan capaian produktivitas padi yang selama ini lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Bali.
“Denpasar memiliki lahan yang subur dan terbukti menjadi daerah dengan produktivitas padi tertinggi di Bali. Namun, karena luas lahan pertanian relatif terbatas, petani perlu mengedepankan kreativitas dan inovasi dalam berusaha tani,” katanya.
Ia mencontohkan berbagai peluang yang dapat dikembangkan petani, seperti budidaya varietas padi premium yang memiliki nilai jual lebih tinggi, pengembangan agrowisata berbasis pertanian, hingga penanaman komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. “Masih banyak inovasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani. Kuncinya adalah kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan kemampuan melihat peluang pasar,” tambahnya.
Sebagai penutup BRMP Bali, menyerahkan beberapa benih jeruk sitaya kepada anggota peguyuban yang hadir untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing sebagai penyemangat dan mendorong upaya pemanfaatan lahan pekarangan dengan menanami tanaman buah.